Page 57 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 57
KEPING 3
“Sesuatu yang lain? Nih, aku sudah bisa merangkum
hidup Putri kita dengan mudah: lahir–TK–SD–SMP–SMA–
kuliah–kerja–nikah–punya anak–punya cucu–mati–dimakan
cacing. Gejolak apa yang bisa kamu harapkan dari orang
yang hidupnya tipikal seperti itu?”
“Loncatan kuantum, Dimas!” Reuben berseru gemas.
“Tidakkah kamu lihat? Kita butuh tipikalitas itu. Kita bu-
tuh kejenuhan. Karena dengan demikian kita bisa me nun-
jukkan ada sekrup kecil yang longgar. Keresahan yang ter-
abaikan.”
“Apa?”
“Andaikan kamu bisa membayangkan betapa kompleks nya
sistem pemikiran manusia,” mata Reuben menera wang, “da-
lam sistem sekompleks itu, cermin siap berbalik kapan saja.
Order, chaos, semudah membalikkan tangan! Otak manusia
hampir setiap saat berada di percabangan menuju bifurkasi.
Satuuu... saja turbulensi kecil berasal dari akumulasi kere sah-
an, akan membawa tokoh kita ke titik kritis yang bisa men-
jadikannya apa saja.”
Maksud Reuben mulai terbayang oleh Dimas. “Hmmm,
keresahan yang terabaikan, aku suka itu,” katanya sembari
menggigiti ujung bolpoin. “Satu masalah abstrak, yang saking
abstraknya malah jadi tidak terperhatikan. Padahal, sangat
esensial dan berpengaruh hebat ketika teramplifi kasi.”
“Bicaramu semakin mirip aku. Bagus!”
46

