Page 59 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 59

KEPING  4



                                   Putri














                    engan kepala bersandar ke kaca, ia mengamati

                    truk-truk yang lalu-lalang di jalanan. Membaca
           Dhampir semua plang toko yang terlewati. Tidak
           juga melewatkan papan reklame dan spanduk yang mem-
           bentang di kiri-kanan. Kebiasaan yang tak pernah ber ubah.
             Sayangnya, kini semua itu tidak lagi bermakna, berbeda
           dengan mata bocahnya dulu. Rana tidak tahu apa yang

           hilang. Mata yang sama, manusia yang sama, tapi pan dangan
           yang sama sekali lain.
             Mobil itu berhenti.
             “Aku jemput pukul tujuh?” Suaminya, Arwin, berkata.
             “Ya, Mas. Kalau ada perubahan, nanti aku telepon.”
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64