Page 63 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 63

KEPING 4


           an tertabur di rumput. Terdengar suara ibunya me manggil,
           “Rana! Sudah sore. Ayo, mandi, nanti ikut bel ajar mengaji
           sama mbakmu semua. Ayo, Nduk.” Dan, Rana kecil menu-

           rut. Berhiaskan jilbab merah jambu mu ngil, ia berjalan riang
           di samping kakak-kakak perem pu annya.
             Sesampainya di rumah Ibu Haji, Rana cuma diberi ker tas
           dan pensil warna karena katanya ia masih terlalu kecil untuk
           mengerti. Dan, Rana memang tidak mengerti. Bagi nya, se-
           mua itu adalah alunan bahasa asing yang konon bernama
           doa. Selebihnya ia cuma diam dan sekali-sekali mendengar-
           kan. Yang ia tunggu adalah kue-kue kecil yang keluar saat

           istirahat.
             Namun, sore itu ada satu keresahan hinggap, dan dirinya
           yang polos masih mengindahkan hal semacam itu. Tanpa
           ra gu ia bertanya kepada Ibu Haji, “Bu, kalau Rana mau bi-
           ca ra sama Tuhan, gimana caranya? Rana, kan, nggak bisa
           me ngaji.”
             Ibu Haji pun menjawab bijak, “Kalau buat anak sekecil
           Rana yang belum bisa mengaji, tinggal ngomong saja lang-
           sung sama Tuhan, pasti didengarkan.”
             Rana pun terpesona. Sepanjang perjalanan pulang, da lam
           hatinya ia memanggil-manggil. Tuhan, Tuhan. Di benaknya
           tergambar muka Mork di televisi yang memang gil-manggil

           Orson, lalu terdengar jawaban dengan suara besar, “Yes,
           Mork.”
             Di luar dugaannya, ternyata suara yang menjawab sa-
           ngatlah halus. Bahkan, tak terdengar oleh telinganya. Rana


           52
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68