Page 85 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 85
KEPING 7
Tidak sampai lima menit, ponselnya berdering. Terde ngar
suara pria.
“Halo, Diva? Sudah siap? Apa? Di mana kamu? Saya
jemput, ya? Saya sudah di jalan. Tunggu saja.”
Lima belas menit kemudian, sebuah sedan mewah built-
up datang menjemput.
“Hai, Sayang.”
Diva disambut seringai lebar. Pemilik seringai itu ada lah
seorang pria bernama Dahlan, atau Bung Dahlan, awal em-
pat puluh, di puncak karier, beristrikan seorang perem puan
yang dipacari sejak SMA, memiliki dua anak, dan meng-
alami kehampaan hidup yang konon menurutnya tak terdefi-
nisikan. Diva adalah salah satu obat yang dipikirnya manjur.
“Hai,” balas Diva pendek.
“Bagaimana show-nya? Sukses? Kamu cantik sekali. Ada
untungnya juga saya ketemu kamu sehabis pentas.”
“Show-nya? Sukses. Saya cantik? Ya, sudah tahu. Ada
untung nya? Kayaknya nggak. Saya capek, terus terang saja.
Bahkan lupa kalau kita ada janji. Tapi, tenang, saya profe-
sional,” ujar Diva datar sambil menarik rambutnya ke atas.
Menjepitnya. Mengipas-ngipas lehernya yang kepanasan.
Dahlan semakin kebat-kebit. Mobil itu melaju makin
kencang.
“Kita beruntung, Div. Hari ini, kantor saya bikin acara di
Hyatt. Lihat apa yang saya dapat.” Dahlan menunjuk kan
kun ci berbentuk kartu plastik.
74

