Page 87 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 87
KEPING 7
lokasi pabrik di Jepang, harus berbasis mesin, soalnya ma-
nusia di sana mahal. Sementara untuk apa bu ru-buru me na-
namkan kapital sedemikian besar un tuk me sin? Kapabi litas-
nya berkompetisi bisa kedodoran du lu an. Jadi, intinya, siapa
yang punya stok manusia pa ling murah? Soal kebijakan po-
litik dan kawan-kawan bisa di atur kemudian,” ia terkekeh,
“Marx pasti sekarang se dang meringis di liang kuburnya.”
“Jadi, boleh dibilang, institusi negara tinggal aksesori,
maksudmu?”
“Atau tepatnya, kotoran hidung yang masih mengang gap
dirinya Grand Canyon. Kapitalisme sudah mencipta kan for-
mat demokrasinya sendiri, kok. Dengan pertama-tama mem-
buat transisi kedaulatan dari negara ke perusa haan transna-
si onal. Dan, jangan lupa magic spell-nya: dari konsumen, oleh
konsumen, untuk konsumen. Tapi, yah, setidaknya negara
harus tetap kelihatan punya peran di depan mata warga-
warganya yang belum sadar dan dijaga untuk tetap tidak
sadar itu. Entah sampai kapan.”
“Kamu paling sebal dengan orang-orang pemerintahan,
dong. Memangnya klien kamu nggak ada yang pejabat?”
tanya Dahlan setengah menggoda.
“Banyaklah. Tapi, kalau saya sebal dengan pejabat, ber arti
saya juga sama sebalnya dengan kamu, orang-orang korporasi
internasional. Nggak, saya bukannya sebal. Apa lagi suka.
Apa, ya? Nggak ada namanya. Kita cuma ber dagang di sini.
Saya hanya mau berdagang dengan orang-orang seperti kali-
76

