Page 86 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 86

Bintang Jatuh

              “Muntahan kantor saja bangga.”
              Dahlan tergelak. Sama sekali tidak tampak tersinggung.

           “Aku kangen kamu, Diva. Sayang, fee kamu mahal sekali.”
              “Mahal saja banyak yang kangen, apalagi kalau saya pa-
           sang murah. Nggak kebayang repotnya seperti apa, meng-
           hadapi  orang-orang  seperti  kamu.  Kaum  awam.  Ma nusia
           kebanyakan.”

              Tawa Dahlan semakin keras. “Oh, Diva. I love you!”







           Kasur pegas  yang  empuk  itu  akhirnya  beristirahat  setelah
           menandak-nandak beberapa jam yang lalu. Sesudah itu,
           mereka berdua hanya berbicara.

              Memakai jubah handuk, Diva mengambil air mineral dari
           kulkas. Dahlan berbaring santai dengan selimut yang mem-
           bungkusnya dari pinggang ke bawah.
              “Coba, bayangkan. Pendapatan satu bulan pekerja pabrik
           otomotif di Malaysia sama besarnya dengan pekerja di Illi-
           nois satu hari. Satu pekerja Prancis sama dengan 47 pekerja
           Vietnam. Satu montir Amerika  seharga 60  montir China.
           Itulah perbandingan paling baru dari harga manusia. Tidak

           diumumkan di brosur saja,” Diva berceloteh sambil me-
           nenggak minumannya. “Pergerakan produksi akan se lamanya
           berputar di isu yang sama, mana yang lebih mu rah? Mesin
           atau manusia? Jawabannya masih sama. Ma nusia. Kalau


                                                                  75
   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90   91