Page 88 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 88
Bintang Jatuh
an. Kalian nggak patut diberi apa pun cuma-cuma karena
kalian sendiri cuma bisa bicara dengan bahasa uang. Uang
nggak bisa berpuisi.”
“Bullshit. Saya bisa bayar seorang seniman dari TIM atau
mana pun untuk berpuisi, di sini, sekarang juga.”
“Itu dia. Baru saja kamu tunjukkan. Kamu mengira bisa
membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dijual. Itu delusif
na manya. Tapi, kamu pikir itu nyata karena mam pu meng-
adakannya secara fisik.”
Tawa Dahlan kembali berderai, “Diva, Diva. Sadis amat,
sih, kamu.”
“Coba, jawab. Kamu sebenarnya warga apa? Warga I ndo-
nesia atau warga perusahaan Jerman-mu?”
“Indonesia, dong.”
“Oh, ya? Apa yang sudah kamu berikan bagi negara ini?”
“Banyak, tentunya. Saya bayar pajak, saya membuka la-
pangan kerja, saya memberikan teknologi yang bisa di pakai
orang-orang di sini, saya melayani kebutuhan me reka.”
Diva menatapnya geli, “Yang barusan ngomong itu
Dahlan atau perusahaan?”
Dahlan terdiam.
“Kalau perusahaan tempat kerjamu bangkrut dan le nyap
dari muka bumi, apakah Dahlan si Pemberi Tekno logi tadi
masih ada? Kamu ini siapa, sih, sebenarnya?” ia bertanya
kocak. “Knock, knock! Hello?”
Lama-lama Dahlan ikut tertawa. Bahkan lebih keras.
77

