Page 126 - In a Blue Moon
P. 126
lihat cincin yang kaupakai itu, aku langsung berpikir mereka
benar.”
Sophie menunduk menatap cincin perak milik almarhum
nenek Lucas Ford yang masih melingkari jari manisnya dan
mengutuk dalam hati. Kemarin malam ia terlalu sibuk me-
mikirkan cara meminta maaf tanpa benar-benar meminta
maaf sampai ia lupa sepenuhnya tentang cincin ini. Ia harus
melepaskannya hari ini. Segera.
”Jadi dia bukan tunanganmu?” tanya Bo lagi. Nada suara-
nya tidak terdengar penasaran. Ia hanya meminta penegasan.
Sophie mendesah dan menggeleng. Ia baru saja hendak
menyangkal ketika ia melihat Spencer muncul di ambang
pintu dapur. ”Hai, Spencer. Sedang apa kau di sini?” Lalu ia
teringat telepon kakaknya kemarin. ”Oh, ya, aku bermaksud
124
meneleponmu pagi ini, tapi aku lupa,” lanjutnya sambil ter-
senyum meminta maaf.
Tidak seperti biasanya, Spencer tidak membalas sapaan
dan senyum Sophie. Ia menggamit siku Sophie dan menun-
juk ke arah kantor kecil Sophie. Sophie menoleh ke arah Bo.
”Bo, itu...”
”Akan kuawasi kuemu,” sela Bo cepat.
”Terima kasih,” gumam Sophie dan membiarkan dirinya
dituntun Spencer ke ruang kerjanya.
Spencer menutup pintu ruang kerja Sophie agar pem-
bicaraan mereka tidak terdengar oleh karyawan-karyawan di
dapur. Kemudian ia berdiri bersedekap dan menatap Sophie
dengan mata disipitkan.
Sophie menatap kakaknya dengan heran. ”Apa...?”
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 124 3/30/2015 10:43:18 AM

