Page 157 - In a Blue Moon
P. 157
”Aku sudah berjanji?” tanya Lucas lagi.
”Ya,” tukas Miranda, mulai kesal. Lucas memang selalu se-
perti ini. Jarang mengingat janji dan jarang mendengarkan
kata-kata Miranda. Seharusnya Miranda sudah terbiasa, tetapi
hal itu membuatnya bertanya-tanya apakah ia pernah menda-
patkan perhatian penuh dari Lucas. ”Aku tidak bisa meng-
hadiri acara itu sendirian, Lucas. Mereka berkata bahwa aku
boleh mengajak pacarku, jadi aku mengajakmu. Dan kau
setuju.”
”Baiklah. Baiklah,” kata Lucas santai. ”Tidak perlu se-
newen. Aku akan pergi bersamamu. Itu saja? Ada lagi yang
lain? Aku harus kembali bekerja.”
Miranda menggeleng sambil tersenyum gembira.
Lucas menatapnya dengan bingung. ”Kenapa kau tiba-tiba
155
tersenyum seperti itu? Rasanya menakutkan.”
Miranda kembali menggeleng, namun senyumnya melebar.
”Tidak apa-apa.”
Lucas terlihat tidak percaya, namun tidak berkomentar. Ia
hanya berjalan cepat melewati Miranda dan berkata, ”Baiklah,
Miranda. Aku harus kembali ke dapur. Kau bisa keluar
sendiri, kan?” Lucas sudah menghilang sebelum Miranda
sempat menjawab.
Tidak apa-apa. Miranda tidak tersinggung. Ia terlalu gem-
bira untuk merasa tersinggung saat itu. Ia nyaris ingin me-
mekik saking gembiranya. Bagaimana tidak? Ia baru saja
menyiratkan bahwa Lucas adalah pacarnya dan Lucas tidak
menyangkal.
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 155 3/30/2015 10:43:20 AM

