Page 160 - In a Blue Moon
P. 160
”Tidak. Dia...” Sophie ragu sejenak. ”Dia meneleponku.”
”Oh, begitu?” gumam Thomas Wilson sambil tersenyum.
Spencer menatap kakeknya dan Sophie bergantian, lalu
berkata, ”Jangan katakan padaku Gramps menyetujui rencana
Mr. Ford.”
”Rencana apa?” tanya Tyler kepada Spencer.
Sophie mengerang dalam hati.
”Mr. Ford sepertinya berencana menjodohkan cucunya de-
ngan Sophie,” sahut Spencer.
”Siapa cucunya?” tanya Tyler dengan kening berkerut.
”Lucas Ford,” sahut Spencer.
”Namanya terdengar tidak asing.”
”Dia pemilik Ramses dan koki kepala di sana. Kau pernah
158 bertemu dengannya, Tyler, di pesta pernikahanmu. Ingat?”
”Samar-samar.” Tyler meletakkan garpu dan duduk ber-
sandar. ”Seperti apa dia?”
Nic langsung menyeletuk, ”Tinggi, tampan, rambut cokelat,
kulit pucat—menurut standarku—dan mata biru yang sa-
ngat... Aaaww!”
Sophie tidak melepaskan cubitannya di lengan Nic sampai
Nic harus mencengkeram tangan Sophie dan melepaskan
cengkeramannya dengan paksa. Mereka saling melotot sesaat.
”Kau pernah bertemu dengannya, Nic?” tanya Spencer he-
ran.
Masih mencengkeram tangan Sophie untuk mencegah
Sophie menyakitinya lebih jauh, Nic menjawab ringan, ”Oh,
ya. Sophie mengajaknya makan malam di restoran orangtua-
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 158 3/30/2015 10:43:20 AM

