Page 155 - In a Blue Moon
P. 155
Lucas yang tak acuh hanya kedok belaka dan laki-laki itu
diam-diam juga menyukainya.
”Aku ingin memberikan ini kepadamu,” kata Miranda sam-
bil mengangkat kotak kue yang dibawanya. ”Tadi aku mam-
pir ke toko kue temanmu dan membelinya.”
Ada sesuatu yang berubah dalam sikap Lucas. Sinar mata-
nya melembut dalam sekejap dan ia tersenyum sekilas. ”Oh,
begitu? Kau bertemu dengan Sophie?”
Miranda mengangguk. ”Ya. Aku membeli tartlet ini untuk-
mu, tapi kulihat kau sudah membelinya sendiri,” katanya
sambil menunjuk kotak kue di meja Lucas.
Lucas tersenyum kecil. ”Ah, aku tidak membelinya. Itu ha-
diah,” jelasnya. ”Tapi aku dengan senang hati menerima pem-
berianmu. Semua orang di sini ketagihan tartlet Sophie.”
153
”Karena itu kau merasa harus melindungi jatahmu?” tanya
Miranda, merujuk pada ancaman yang tertempel di kotak
kue Lucas.
”Oh, ya, tentu saja.”
Miranda menyerahkan kotak kuenya kepada Lucas dan
melihat Lucas meletakkannya dengan hati-hati di meja, di
samping kotak kuenya sendiri. Mata Miranda beralih ke ta-
ngan kiri Lucas. Cincin yang selalu menghiasi kelingkingnya
kali ini tidak terlihat. ”Omong-omong, katanya dia bukan
temanmu,” kata Miranda.
”Siapa?”
”Sophie Wilson,” sahut Miranda.
Lucas mengangkat alis. ”Katanya kami bukan teman?”
”Mm-hm.”
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 153 3/30/2015 10:43:20 AM

