Page 202 - In a Blue Moon
P. 202
untuk memberikan ini kepadamu.” Lucas menyodorkan bu-
nga itu kepada Sophie. ”Nah, ini untukmu. Tolong jangan
melemparkannya kembali ke wajahku.”
Masih sambil tercengang, Sophie menerima buket bunga
yang menurutnya adalah buket bunga paling indah yang per-
nah dilihatnya. Kata-kata, bahkan ucapan terima kasih seder-
hana sekalipun, masih belum terbentuk dalam otaknya yang
terkejut.
”Selusin tulip merah dan selusin iris biru. Kata si penjual
bunga, ini adalah pilihan yang sangat tepat untuk membuat
hati kekasihku berdebar-debar,” lanjut Lucas. ”Kukatakan
padanya bahwa dia salah. Aku membeli ini bukan untuk ke-
kasihku, melainkan untuk tunanganku.”
Sophie menatap Lucas dan mulai merasa jantungnya ber-
200
debar kencang. Oh, astaga. Sepertinya si penjual bunga benar.
”Sophie?” panggil Lucas. ”Sebaiknya kau mengatakan se-
suatu. Aku mulai merasa keputusanku ini sangat buruk.”
Sophie mengerjap dan menggeleng untuk menjernihkan
kepala. ”Kalau aku...” Suaranya terdengar aneh. Sophie ber-
deham dan mencoba sekali lagi. ”Kalau aku menolak diantar
pulang olehmu, apa yang akan kaulakukan dengan bunga
ini?”
”Aku tetap akan memberikannya padamu. Kalau kau tidak
menolak tumpangan, kupikir aku akan mencari berbagai
macam alasan supaya kau mau ikut denganku ke mobilku
sebentar. Dengan begitu aku bisa memberikan bunga ini ke-
padamu tanpa menimbulkan kehebohan di tengah-tengah
Jump Start.”
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 200 3/30/2015 10:43:23 AM

