Page 86 - In a Blue Moon
P. 86
harus kaulakukan? Kau bahkan tidak bisa mendapatkan no-
mor teleponnya,” gerutunya.
Lucas baru hendak membalas ketika ponselnya mendadak
berdering. Ia merampas ponselnya dengan cepat dan mem-
baca nama yang muncul di layar. Bahunya melesak. Ternyata
bukan telepon yang ditunggu-tunggunya.
”Hai, Miranda,” katanya tak acuh setelah menempelkan
ponsel ke telinga.
Mendengar nama Miranda, kakek Lucas langsung ber-
deham dan membaca surat kabar dengan wajah membere-
ngut. Lucas hanya tersenyum kecil melihat sikap kakeknya.
”Jam berapa kau akan menjemputku, Lucas?” tanya
Miranda di telepon.
”Menjemputmu? Kenapa?” tanya Lucas heran.
84
”Kau lupa? Bukankah temanmu pernah mengundang kita
menghadiri pembukaan pameran lukisannya? Pembukaannya
hari ini, bukan? Di Williamsburg?”
Lucas ingat Simon Art, temannya yang berprofesi sebagai
pelukis kontemporer, pernah menyebut-nyebut tentang pa-
meran lukisannya. Simon memang mengundang mereka, te-
tapi Lucas tidak pernah berkata ia akan hadir, terlebih lagi
bersama Miranda. Lagi pula, sebenarnya hari ini ia malas
pergi ke mana-mana, lebih memilih menyibukkan diri di
Ramses.
Tetapi ketika ia melirik ke arah kakeknya yang pura-pura
membaca surat kabar namun sebenarnya sedang menguping
pembicaraannya, Lucas pun memutuskan mengganggu kakek-
nya sedikit.
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 84 3/30/2015 10:43:14 AM

