Page 17 - Supernova 4, Partikel
P. 17

nya. Kendati di semua tempat kegiatan Ibu, Ayah tak pernah ikut turun. Dari dalam mobil,
        ia hanya melambai, dan nanti memencet klakson saat menjemput.

          Mobil itu ia jadikan tembok perlindungan yang melapisinya dari dunia Ibu.




        Malam hari, Ayah mengantarku dengan cerita pengantar tidurnya. Berbeda dengan anak
        lain yang didongengi Timun Mas dari buku dengan ilustrasi lucu berwarna-warni, Ayah

        menggambar anatomi otak. Tangkas, ia membuat sketsa dengan spidol hitam. Ayah adalah
        penggambar yang sangat baik. Kalau saja dia tidak jadi ilmuwan, aku yakin Ayah akan
        menjadi pelukis hebat.

          “Kalau saja adikmu Hara itu anak kuda,” katanya sambil menggambar, “sekarang dia
        sudah cari makan sendiri. Tapi, karena Hara itu Homo sapiens, spesies yang ketika masa
        kanaknya  punya  fisik  terlemah  dengan  otak  yang  kegedean,  dia  terpaksa  menyusahkan

        orangtuanya  sampai  delapan  tahun  lagi.”  Waktu  itu  Hara  baru  berusia  dua  tahun.  Aku
        delapan.

          Setelah  gambarnya  selesai,  ia  pun  berkisah,  “DNA-mu  99,6  persen  identik  dengan
        simpanse. Hanya beda 0,4 persen. Bahkan, selisih genetika antara simpanse dan gorila itu
        1,8  persen.  Carolus  Linnaeus  bikin  istilah  hominidae  untuk  manusia  dan  memisahkan
        simpanse dengan kata pongidae gara-gara dia takut dimarahi pihak gereja. Jadi, kita ini
        binatang,  Zarah.  Binatang  yang  berkemampuan  linguistik  tinggi  karena  punya  Area

        Broca.”

          Kemudian, Ayah menempelkan gambarnya tadi di dinding sebelah ranjangku, di antara
        karya-karya  beliau  sebelumnya  seperti  penampang  bunga,  penampang  daun,  sistem
        pernapasan  reptil,  amfibi,  pises,  aves,  dan  seterusnya.  “Jangan  pisahkan  dirimu  dari
        binatang,” pesannya. “Kamu lebih dekat dengan mereka daripada yang kamu bayangkan,”
        lanjutnya lagi.

          Aku pun bertanya, seperti biasanya, “Biar apa, Ayah?”

          “Biar kamu tidak sombong jadi manusia,” ujarnya sambil tersenyum. Ia lalu mengecup

        keningku, menebarkan selimut ke atasku. Mematikan lampu. Keluar dari kamarku tanpa
        suara.

          Di usiaku yang masih sangat muda, aku bahkan sudah bisa menilai betapa Ayah adalah
        seorang  yang  penuh  kontroversi.  Tak  ada  yang  bisa  menyangkal  bahwa  ia  dianugerahi
        magnet karisma luar biasa. Ayah terlibat erat dengan lingkungan dan sesama, tapi pada
        saat  yang  bersamaan  selalu  ada  jarak  yang  ia  jaga.  Ayah  sengaja  melapisi  dirinya  dari
        dunia, dan hanya kepadakulah ia sudi melonggarkan pertahanannya.


                                                                                                               3.

        Terlepas  dari  berbagai  misteri  yang  melekati  citranya,  ada  satu  hal  tentang  Ayah  yang
        diketahui  secara  terbuka  oleh  semua  orang.  Kegilaannya  pada  fungi.  Ayah  selalu
        mencintai Biologi, tapi Mikologi-lah yang sanggup membakar semangatnya dengan bara
        yang tak kenal padam. Ia bagai penyelam yang selalu menemukan cinta segar dalam setiap
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22