Page 237 - Supernova 4, Partikel
P. 237

KEPING 42


                                   Kedua Tangan yang Bertemu



                                                         2 0 0 3


                                                       Bandung





        B   ANDUNG  adalah  kota  yang  masih  mengenal  tidur.  Setidaknya  bagi  sebagian  orang  di
            sebagian daerah tertentu. Tidak di tempat itu.

          Sebuah  bangunan  arsitektur  Belanda  bercat  putih  bersih,  terletak  di  sudut  jalan,
        pekarangan  luasnya  ditutup  paving block  dan  menjadi  tempat  menginap  sekian  banyak
        motor dan mobil yang saling silang menunggu pemiliknya. Kadang mereka baru keluar
        tengah  malam,  kadang  sampai  pagi  menjelang.  Ke  dalam  pintu  besar  itu,  mereka

        menyerahkan waktunya untuk menjelajah realitas maya. Ke luar pintu besar itu, mereka
        dipertemukan  kembali  dengan  realitas  saja,  sembari  berharap  keduanya  tidak  tertukar
        karena kian hari batas kedua realitas itu kian saru.

          Di atas pintu besar tadi, terpahatlah tulisan di tembok: ELEKTRA POP – 1931.

          Bodhi berdiri memandangi pintu itu. Berpikir. Meragu. Jika bukan karena Bong, yang
        sudah ia anggap manusia kombinasi kakak-sahabat-belahan jiwa, ia tidak akan kemari.

          Sudah  lama  ia  mendengar  tempat  nongkrong  garis  miring  warnet  kondang  bernama
        Elektra Pop yang konon adalah semacam “kuil” inisiasi pergaulan di kota ini. Beberapa

        waktu  lalu,  ia  mengetahui  bahwa  salah  seorang  pemilik  Elektra  Pop  ternyata  adalah
        sepupu kandung Bong sendiri, bernama Toni garis miring Mpret. Terpisah selama sebelas
        tahun  dan  dipertemukan  kembali  oleh  jejaring  sosial  di  internet,  Bong  baru  saja  reuni
        besar-besaran dengan Mpret.

          Tapi, bukan karena semua alasan itu ia disuruh kemari. Ada satu sekat dalam bangunan
        besar  ini,  entah  di  sebelah  mana,  yang  juga  menjadi  tempat  kondang  baru  di  Kota
        Bandung.  Mewakili  dunia  yang  sama  sekali  berbeda  dengan  internet,  gamers,  dan

        pergaulan.  Konon,  di  sekat  itu,  seorang  perempuan  menyalurkan  talentanya  sebagai
        penyembuh alternatif. Kombo yang aneh,  pikir  Bodhi.  Tempat  gaul  dan  tempat  praktik
        dukun. Lebih aneh lagi karena penyembuh alternatif garis miring dukun itu adalah anak
        muda seusianya. Dialah pemilik rumah besar itu. Perempuan keturunan Tionghoa yatim
        piatu bernama Elektra.

          Bodhi  tidak  merasa  ia  sakit.  Entah  untuk  apa  Bong  bersikeras  menyuruhnya  kemari.
        Apalagi,  Elektra  konon  menggunakan  listrik  sebagai  sarana  terapinya.  Bodhi  benci

        kesetrum.  Amat,  sangat,  benci.  Tidak  pernah  terpikir  olehnya  menyerahkan  diri  untuk
        disetrum sukarela. Semakin lama ia berdiri di situ, semakin ingin ia kabur.

          Bodhi merogoh kantongnya, mengeluarkan sepotong jam plastik digital berlayar retak
        tanpa tali. Sederet angka itu berkedip-kedip. 11.10 p.m. Memacunya berpikir, ke mana ia
   232   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242