Page 52 - PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR
P. 52

Dalam praktikum ini dilakukan pengemasan dan penyimpanan daging uggas

                       yaitu ayam dengan berbagai perlakuan yaitu pengemasan dengan daun pisang disimpan
                       pada suhu ruang, pengemasan dengan daun pisang disimpan pada suhu refrigerasi, dan

                       pengemasan dengan daun pisang disimpan pada suhu freezing. Penyimpanan daging
                       ayam  ini  dilakukan  selama  0-6  hari  atau  7  hari  untuk  suhu  dingin,  sedangkan

                       penyimpanan daging dilakukan selama 24 jam, 36 jam, dan 48 jam untuk suhu ruang.
                       Hal ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan mana yang paling baik untuk menyimpan

                       daging unggas.


                              Diantara  semua  perlakuan  yang  paling  baik  pada  daging  ayam  dan  lama
                       penyimpanannya  yaitu  yang  pengemasan  dengan  daun  pisang  disimpan  pada  suhu

                       freezing dan perlakuan yang kurang baik pada daging ayam dengan pengemasan daun
                       pisang  disimpan  pada  suhu  ruang  hal  ini  karena  pada  penyimpanan  suhu  ruang

                       mengalami kerusakan tekstur ayam berair/lembek dan aroma daging ayam yang busuk.

                       Kadar air yang meninggi akibat daging ayam dicuci membuat bahan pangan segar yang
                       disimpan cepat mengalami kerusakan apalagi disimpan pada suhu ruang.


                              Selain  kadar  air  suhu  juga  berperan  dalam  ketahanan  umur  simpan  daging
                       unggas.  Pada  perlakuan  ini  penyimpanan  pada  suhu  freezing  dapat  menghambat

                       terjadinya kerusakan pada daging diantara perlakuan penyimpanan pada suhu lainnya.




                          3.  Penyimpanan telur dengan termostabilisasi


                          Telur merupakan salah satu produk peternakan yang berasal dari unggas. Sesuai
                       dengan sifat dasarnya, telur mempunyai sifat mudah rusak (perishable) seperti halnya

                       produk-produk  pertanian  lainnya.  Penurunan  mutu  telur  sudah  dimulai  sejak  telur

                       dikeluarkan dari induknya. Penurunan mutu ini disebabkan oleh perubahan fisik, kimia,
                       dan  atau  mikrobiologi.  Pada  prinsipnya  upaya-upaya  mempertahankan  mutu  telur

                       selama  penyimpanan  adalah  dengan  menghambat  keluarnya  massa  telur  serta
                       mencegah masuknya CO2 dan mikroba ke dalam telur.


                          Upaya  mempertahankan  mutu  telur  dapat  dilakukan  dengan  penyimpanan  pada

                       suhu rendah, pengaturan kelembaban, pengemasan dalam wadah tertutup, perlakuan
                       terhadap kulit dan termostabilisasi. Prinsip termostabilisasi adalah penutupan pori-pori
   47   48   49   50   51   52   53   54   55