Page 231 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 231
para pelaku bisnis merasakan adanya kebutuhan akan pembudayaan nilai-nilai
baru tentang kewirausahaan dan manajemen.
Kemudian pada tahun 90-an banyak dibicarakan tentang kebutuhan nilai-
nilai baru, konflik budaya, dan bagaimana mempertahankan Budaya Indonesia
serta pembudayaan nilai-nilai baru. Bersamaan dengan itu para akademisi
mulai mengkajinya dengan memasukkannya ke dalam kurikulum berbagai
pendidikan formal dan informal. Salah satu pakar yang cukup gigih
mengembangkan ‘budaya organisasi’ adalah Taliziduhu Ndraha, seorang
pakar Ilmu Pemerintahan.
Budaya korporasi sering pula digantikan dengan istilah ‘budaya kerja’,
karena korporasi atau perusahaan tidak bisa dipisahkan dengan kinerja
(performance) sumber daya manusia (SDM). Makin bagus budaya kerja para
karyawan berarti semakin bagus pula budaya perusahaan. Budaya
Korporasi/Perusahaan (corporate culture) memang sulit didefinisikan secara
tegas dan sulit diukur, namun bisa dirasakan oleh SDM di dalam perusahaan
tersebut. Suatu perusahaan yang memiliki budaya yang kuat bahkan dapat
terlihat atau teramati oleh peninjau dari luar perusahaan yang mengamati.
Pengamat tersebut akan merasakan suasana yang khas dan lain dari pada yang
lain, di dalam perusahaan tersebut, bila dibandingkan dengan perusahaan
lainnya. Oleh karena suatu korporasi atau perusahaan terbentuk dari kumpulan
individu yang berbeda baik sifat, karakter, keahlian, pendidikan, pengalaman,
dan latar belakang sosialnya, maka perlu ada pengakuan pandangan yang akan
berguna untuk pencapaian misi dan tujuan perusahaan tersebut, agar tidak
berjalan sendiri-sendiri.
Dalam konteks ini, perusahaan bukan lagi hanya tempat berkarya mencari
nafkah, tetap lebih dari itu, menjadi tempat dimana setiap individu merasa
memperoleh nilai tambah dan dapat mengaktualisasi dirinya. Oleh karena itu
maka budaya perusahaan harus bersifat dinamis, artinya harus terbuka, adaptif
dan siap berubah sesuai yang terjadi di lingkungan intern maupun ekstern
perusahaan.
Dalam bukunya Handbook of Human Resource Management Practice
(2009), Michael Armstrong menjelaskan bahwa ‘budaya perusahaan’ meliputi
nilai, norma, keyakinan, sikap dan asumsi yang mempengaruhi perilaku warga
perusahaan tersebut. Sementara Robbins (2003) mendefinisikan ‘budaya
207

