Page 478 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 478
'Bagaimana kau tahu mereka Pelahap Maut?' kata Ron.
'Karena aku kenali salah satu,' Hagrid menggeram. 'Macnair, ingat dia? Orang
yang mereka kirim untuk bunuh Buckbeak? Maniak, dia. Suka membunuh
seperti Golgomath; tak heran mereka sangat akrab.'
'Jadi Macnair sudah meyakinkan para raksasa untuk bergabung dengan Kau-
Tahu-Siapa?' tanya Hermione putus asa.
'Tahan Hippogriffmu, ceritaku belum selesai!' kata Hagrid tidak senang, yang,
mengingat dia tidak mau memberitahu mereka apapun awalnya, sekarang
tampak agak bersenang-senang. 'Aku dan Olympe membicarakannya dan kami
setuju cuma karena Gurg tampaknya memilih Kau-Tahu-Siapa tak berarti
semuanya begitu. Kami harus coba yakinkan beberapa yang lain, yang tidak mau
Golgomath jadi Gurg.'
'Bagaimana kalian bisa tahu yang mana?' tanya Ron.
'Well, mereka yang dipukuli sampai babak belur, bukan?' kata Hagrid dengan
sabar. 'Yang cukup berotak sedang menyingkir dari jalan Golgomath, sembunyi
di gua-gua sekitar lembah seperti kami. Jadi kami putuskan kami akan
berkeliaran di sekitar gua-gua waktu malam dan lihat apa kami bisa yakinkan
beberapa dari mereka.'
'Kalian berkeliaran di sekitar gua-gua gelap mencari para raksasa?' kata Ron,
dengan nada hormat dan kagum dalam suaranya.
'Well, bukan raksasa yang paling kami kuatirkan,' kata Hagrid. 'Kami lebih
prihatin tentang para Pelahap Maut. Dumbledore sudah bilang sebelum kami
pergi jangan berurusan dengan mereka kalau kami bisa menghindari, dan
masalahnya mereka tahu kami di sekitar sana -- kurasa Golgomath beritahu
mereka tentang kami. Waktu malam, saat raksasa tidur dan kami mau
merangkak ke dalam gua-gua, Macnair dan satu lagi menyelinap sekitar
pegunungan mencari kami. Aku kesulitan menghentikan Olympe menyerang
mereka,' kata Hagrid, sudut-sudut mulutnya mengangkat jenggotnya yang lebat,
'dia ingin sekali serang mereka ... dia benar-benar hebat kalau bersemangat,
Olympe ... berapi-api, kalian tahu ... kurasa darah Prancisnya ...'
Hagrid menatap dengan mata melamun ke api. Harry memberinya tiga puluh
detik mengenang sebelum berdehem keras.

