Page 147 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 147

Keping 55


             “Tetangga-tetangga kita nggak perlu beli roti lagi. Mama
           kasih setiap hari,” jawab ibunya kalem sambil mencemplungkan
           sebongkah kecil gula batu ke dalam poci teh.

             Gio membasuh kunyahan rotinya dengan teh poci hangat.
           “Aku nggak bisa tunggu Papa pulang joging.”
             “Kenapa pagi sekali berangkat? Jam enam juga belum.”
             “Aku harus ke Bogor hari ini. Lebih pagi lebih baik,” jawab
           Gio seraya menyalakan ponselnya yang semalaman dimatikan.
             “Ada yang penting?” tanya Jia hati-hati. Ia terbiasa untuk
           tidak mencampuri urusan Gio meski banyak sekali yang ingin
           ia  ketahui  dari kehidupan  anaknya  yang lebih mirip  buku
           misteri. Jakarta selama ini hanyalah tempat transit bagi Gio.

           Semua foto yang Gio tunjukkan lebih banyak jumlah batu atau
           pohon ketimbang manusia. Kisah-kisah yang Gio ceritakan
           setiap mampir pulang, meski lokasinya berganti-ganti, cuma
           memunculkan sederet nama yang itu-itu lagi. Paulo. Chaska.
           Beberapa nama lain yang semuanya laki-laki.
             “Aku bantu urusan temanku. Sebentar saja. Habis itu….”
           Kalimat Gio terputus ketika terdengar bunyi pesan masuk.
           Ia membaca nama Dimas dan langsung mengecek isi pesan
           singkat yang tampaknya dikirim dari semalam. “Habis itu aku
           ke Menteng,” lanjutnya.
             “Sibuk sekali. Tumben. Biasanya di Jakarta kamu mengeluh
           nggak ada kerjaan,” komentar Jia. “Itu ada dua mobil di garasi.

           Nganggur. Bawa saja daripada naik taksi terus.”
             “Hari ini aku carter mobil sama sopir sekalian. Malas nyetir
           sendiri di sini. Macet,” kata Gio. Ia menghabiskan isi poci


           132
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152