Page 269 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 269

Keping 63


           “Memangnya kalau rumah suaka jadi bisa ada lampu tanpa
           listrik? Tanpa bola lampu?”

             “Di kampung asalnya Mas Kell dan aku, ndak ada listrik
           pakai kabel-kabel begitu. Kami ini, kan, orang-orang zaman
           batu. Apa-apa batu. Butuh terang, ya, juga pakai batu. Tapi,
           batunya ndak sembarang. Pakai kekuatan mistis. Ndak mistis,
           ya,  ndak  jalan. Pokoknya batu sama mistis. Sudah.” Kas

           menerangkan sambil duduk di salah satu batu besar itu.
             “Aku serius, Pak.”
             “Ya, aku juga.”
             “Sekalian saja hujannya dibikin berhenti.”  Terdengar
           kekesalan dalam suara Alfa.
             “Kami  ndak  mengendalikan segala-galanya, yang perlu-
           perlu saja. Buat apa hujan diberhentikan? Wong aku bersyukur
           jadi ndak perlu siram-siram.”

             “Ingat  teleponmu  ke  Norbu?”  Kell  menimpali.  “Necessity
           versus curiosity. We don’t entertain the latter.”
             Bodhi merasakan  vibrasi halus dari saku jinsnya.  “Batu
           ini….”  Hati-hati,  Bodhi  merogoh  benda  yang  terselip  di
           kantongnya. Begitu genggamannya nongol dari saku, batu

           kecil miliknya mencelat bagai logam ditarik besi sembrani.
             Melihat itu, Alfa buru-buru meraih tasnya. Begitu ritsleting
           tas dibuka, sesuatu ikut memelesat keluar dan mendarat di
           bongkahan batu yang diduduki Kas. Refleks, kedua lutut Kas
           menutup.
             “Nyaris!” Tawa Kas meledak.



           254
   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274