Page 264 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 264
IntelIgensI embun PagI
dari sungai, tanpa dipoles atau dibentuk. Tidak ada furnitur
atau hiasan lain sejauh mata memandang.
“Canggih juga,” gumam Alfa, masih sibuk mencari sumber
cahaya. “Pakai panel solar, ya? Dipasang di mana lampunya,
Pak?”
“Nih. Di jidatku.” Kas menunjuk keningnya yang berkilap.
“Semua teknologi material yang kami punya tidak boleh
digunakan di dimensi ini. Tapi, beberapa tempat dapat
perkecualian,” jelas Kell.
“Karena ini rumah suaka,” Bodhi menyahut pelan.
“Seratus untuk Cah Bagus,” celetuk Kas.
Suam-suam udara Jakarta terbantu oleh semilir angin yang
berembus murah hati. Sudah lebih dari setengah jam Gio
duduk di gazebo taman tanpa merasa perlu masuk ke ruang
ber-AC.
Nama “Daly, Paul” sudah tercantum di daftar kontak
ponselnya. Tinggal satu gerakan ibu jari untuk berbicara
dengannya.
Gio tahu, ia tidak perlu berbohong kepada Paul. Ada
sesuatu dengan Zarah yang membuat tugasnya belum usai.
Namun, Gio pun menyadari, permintaan Paul bukan lagi
alasan satu-satunya ia kembali ke Bogor besok. Rasa tidak
nyaman menyisip dalam hatinya. Rasa bersalah.
249

