Page 270 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 270
IntelIgensI embun PagI
Baik Bodhi maupun Alfa menganga melihat dua batu kecil
mereka melekat bagai tahi lalat di bongkahan batu besar di
tengah ruangan. Masing-masing mendarat di dua bongkahan
yang berbeda.
“Itu induknya,” bisik Bodhi.
“Wis, biarkan. Anak kangen ibu. Ibu kangen anak,” sahut
Kas.
“Dari aspek fisik, teknologi kami akan terlihat sangat
minim. Dan, kami memang sengaja menyamarkannya dalam
bentuk sesederhana mungkin. Ya, inilah sumber ‘listrik’ yang
kamu cari-cari,” kata Kell sambil menepuk salah satu dari
enam batu yang ada dan ikut duduk di atasnya.
“Ini?” Alfa melengos.
“Situ, kan, badannya kekar. Coba saja geser satu batu. Tuh,
yang kecilan.” Kas menunjuk satu bongkah.
Alfa membungkuk, meletakkan kedua tangannya di atas
batu yang tingginya tak lebih dari enam puluh senti. Alfa
mendorong. Batu itu tak bergerak sedikit pun. Kali ini Alfa
menggunakan seluruh kekuatannya. Tangannya bergetar dan
napasnya mengembus kencang. Seakan berakar ke dalam
bumi, batu itu tetap diam tak terpengaruh.
“Bodhi. Coba bantu. Angkat bareng-bareng,” kata Kas.
Antara ragu dan penasaran, Bodhi beringsut ke hadapan
Alfa. Berpandangan, keduanya serempak mengangkat batu itu
dari lantai.
255

