Page 279 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 279

Keping 64


           banyak jalur lain yang ia duga sebagai gelombang radio, pola
           magnet Bumi, memadati penglihatannya dari waktu ke waktu.

           Realitas baginya kini adalah tumpukan kisi demi kisi. Silang-
           menyilang, tumpang-tindih, karut-marut.
             “Batu-batu itu bukan cuma memasok energi untuk rumah
           ini. Kita ikut di-charge.” Bodhi berkata tiba-tiba. “Penglihatanku
           makin jelas. Kalau aku sudah bisa mengidentifikasi jalur kisi

           Peretas, aku bisa menemukan tiga anggota gugus kita yang
           lain.”
             “Petir sudah bubar jalan. Asko nggak bisa diakses.
           Menurutmu, apa gunanya lagi?”
             “Kamu nggak penasaran ketemu mereka?”
             “Buat apa? Foto-foto? Tukeran nomor telepon terus reuni
           tiap lima tahun sekali?” Alfa tertawa, sumbang.  “Dengan
           kemampuanmu, kamu masih bisa jadi pelacak buat mereka,

           Bod. Tapi, aku?”
             “Kamu bisa coba mengonstruksi ulang Antarabhava selama
           kamu di sini.”
             “Proses itu kulakukan sebelum terlahir. Aku cuma bisa
           melakukannya lagi  kalau  aku habis kontrak di  dunia  ini.

           Alias mati.” Alfa mengambil posisi di sebelah Bodhi. “Sebelas
           tahun aku hidup abnormal, Bod. Mengalami macam-macam
           siksaan dan nyeri yang nggak bisa kamu bayangkan. Waktu
           aku ketemu dr. Kalden, aku lega. Setidaknya, sebelas tahun itu
           nggak percuma. Gangguan tidurku punya tujuan yang lebih
           besar. Dua hari saja aku di Indonesia dan tujuan itu sudah



           264
   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283   284