Page 282 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 282

IntelIgensI embun PagI

           Rapat telekonferensi pagi hari demi mengejar perbedaan
           waktu dengan kantor  di belahan dunia lain membuatnya
           sering masuk lebih awal daripada karyawan yang lain. Re

           sudah terbiasa dengan itu. Namun, pagi ini ekstra berat karena
           semalam ia terjaga hingga larut. Pekerjaan paruh waktunya
           mengasyikkan sekaligus menyita waktu istirahat. Re semakin
           sering terpikir untuk pensiun dini dari pekerjaan kantor dan
           menjadikan Supernova profesi penuh waktu.
              “Pagi, Irma.” Re menyapa sekretarisnya yang juga terpaksa
           datang awal. Kantor itu masih lengang, hanya ada Irma dan
           dua orang office boy berseliweran. “Latte, ya.”
              “Sudah di meja, Pak.”

              “Thanks.” Selintas Re berpikir untuk tetap mempekerjakan
           Irma pada masa pensiunnya nanti. Irma sangat bisa diandalkan.
              “Pak, tadi di lobi, saya ketemu temannya Bapak. Dia titip
           barang. Saya tanya, ‘Kok, pagi amat?’ Dia bilang harus ke luar
           kota, jadi pagi-pagi mampir dulu ke sini. Kalau nggak ketemu
           saya tadi, pasti barangnya ketahan di bawah. Sudah saya
           simpan di dalam.”
              Re menatap sekretarisnya dengan alis mencureng. “Teman
           yang mana, ya?” tanyanya.
              “Yang kemarin datang, yang ganteng….” Irma tersentak
           oleh kalimatnya sendiri. “Yang gorila, maksud saya, yang pakai
           baju gorila, eh, kaus gambar gorila.”

              “Gio?”
              “Iya. Gio.” Irma mengeluh dalam hati. Saking gugupnya,
           nama sesingkat itu bisa sampai terlewat dari ingatan.


                                                                 267
   277   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287