Page 286 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 286

IntelIgensI embun PagI

              “Teman,” jawab Gio.
              Zarah bisa merasakan lapisan tebal di balik jawaban Gio.

           Teman itu bukan teman biasa. Seseorang yang disebut “teman”
           hanya karena alasan praktis dan logis, padahal sebenarnya
           tidak demikian.
              “Sudah berapa lama?”
              “Hampir dua bulan.” Dalam hati, Gio ingin menjelaskan,

           kehilangannya sesungguhnya sudah jauh lebih lama daripada
           itu, tapi ia tak menemukan alasan yang tepat.
              “I’m sorry.” Zarah nyaris berbisik. Luka Gio jauh lebih segar.
              Tatapan mereka beradu. Kendati sejenak, ada titik
           pemahaman baru bagi keduanya bertemu.
              Gio berdeham, lebih untuk mengalihkan kegugupan
           ketimbang gatal tenggorokan.  “Kayaknya kamu sudah siap
           pindah ke sini kalau mau.”

              “Hari ini.” Zarah mengangguk.
              “Kapan-kapan, aku pengin ajak makan malam, boleh?”
              “Kapan itu  ‘kapan-kapan’?” Zarah tertawa kecil.  “Kamu
           bakal pulang ke Peru, aku bakal pulang ke Inggris. Kamu di
           Jakarta, aku di pinggiran Bogor. Dan, kita sama-sama nggak

           tahu bakal berapa lama lagi di Indonesia.”
              “Good point.” Gio manggut-manggut. “Malam ini?”
              Tawa Zarah melebar.  “Kamu benar-benar nggak ada
           kerjaan, ya?”
              “Sudah kubilang, di sini aku pengangguran.”
              “Oke. Dinner di Jakarta atau di Bogor?”



                                                                 271
   281   282   283   284   285   286   287   288   289   290   291