Page 317 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 317
Keping 66
Hal pertama yang dilakukan Toni adalah mengecek area parkir,
memindai kilat mobil mana yang bisa ia pinjam. Dari empat
mobil yang terparkir, ada satu yang Toni yakin bisa. Ia cuma
tidak yakin mobil itu sanggup menempuh perjalanan jauh.
Toni pun pergi ke ruang warnet, mengecek bilik-bilik.
Orang yang ia cari sedang tertidur nyenyak di atas sebuah
kasur gulung, lutut tertekuk, mulut membuka.
“Iksan, bangun, San.” Toni menggoyang-goyang pundak
kawannya. Setelah beberapa kali goyangan, Iksan terbangun.
Bola matanya merah, menatap dengan sorot gusar. Ia membalas
sapaan Toni dengan erangan pendek menyerupai gerutu.
“San, antar gua ke Jakarta, yuk.”
“Kapan?” tanya Iksan dengan suara parau.
“Kalau besok, masa gua banguninnya sekarang?”
“Ke Jakarta? Sekarang? Ngapain?”
“Ada kerjaan. Penting. Gih, cuci muka. Lima belas menit
lagi kita jalan, ya. Gua juga siap-siap dulu.” Toni menepuk kaki
Iksan, lalu bergegas ke ruang kerjanya.
Tidak banyak yang Toni harus siapkan. Ia menyambar
dompet, ponsel, sweter. Layar monitor komputernya yang
sudah gelap tahu-tahu menyala lagi. Tangan Toni langsung
menjangkau tetikus. Keningnya berkerut menangkap
keganjilan di layar.
302

