Page 312 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 312

IntelIgensI embun PagI

              Sesaat Gio menahan napas. “Ayahmu dan aku, kami adalah
           Peretas.”







           Penunjuk waktu di monitornya mengedipkan pukul dua pagi
           lebih tujuh belas menit dan sepuluh detik. Tak ada sedikit pun

           kantuk. Novel dua ratusan halaman itu mencekam Re dengan
           kengerian bercampur takjub. Satu hal yang kini Re yakini,
           ia dan Gio sama-sama benar. Semua ini adalah remah roti.
           Semua ini adalah rencana.
              Re menyambar teleponnya. Ia tidak sabar kalau harus
           menunggu balasan surel. Rasanya ingin segera berbicara
           dengan Gio, Dimas, Reuben…, Toni. Re memencet sederet
           nomor yang tidak ada di daftar kontaknya dan dihafalnya di

           luar kepala. Orang yang satu itu pasti masih terjaga.
              Nada sambungnya sahut-menyahut sendirian tanpa
           sambutan. Panggilannya pun terlempar ke kotak suara. Re
           berdecak  gemas,  langsung  memencet tombol merah, dan
           kembali mengulang panggilannya.

              Nada sambung itu terputus dengan cepat, berganti dengan
           sapa, “Mas Re? Sori tadi aku lagi di kamar mandi….”
              “Toni. Aku harus ngobrol panjang lebar sama kamu.”
              “Ada apa, Mas?”
              “Diva, Ton,” Re kebingungan harus memulai dari mana,
           “Bintang Jatuh….”



                                                                 297
   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317