Page 322 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 322

IntelIgensI embun PagI

              “Ke rumahnya. Adikmu mungkin sudah bilang, Simon
           punya info penting tentang Firas. Sayangnya, Simon tak bisa
           bicara di sini. Ada yang harus dia tunjukkan langsung.”

              “Mas ini siapanya Pak Simon?”
              “Kolega,” jawab Togu mantap, seolah sudah mengantisipasi
           pertanyaan Zarah. “Kita berangkat sekarang?”
              “Saya harus pamit dulu.”
              “Ibumu sudah berangkat ke pasar diantar ayahmu. Adikmu
           juga barusan sudah pergi sekolah. Harus pamit sama siapa
           lagi?”
              Zarah teringat ponselnya di dalam tas, terpikir untuk
           menyelinap ke dalam dan mengontak Gio.

              “Tak usah buang-buang waktu. HP-mu sudah hilang sinyal
           dari tadi. Tinggalkan saja daripada bikin berat,” lanjut Togu
           santai.
              Degup  jantung  Zarah  pun  memburu.  Matanya  mulai
           memindai benda yang bisa ia pakai untuk membela diri. Ia baru
           menyadari keberadaan sebuah tongkat kayu berwarna gelap
           yang bersandar di meja konsol. Bentuknya kelihatan seperti
           artefak kuno. Sekujur tongkat setinggi ketiak itu berhiaskan
           ukiran, juraian ijuk terikat di pucuknya.
              Mendeteksi keresahan Zarah,  Togu menyunggingkan
           senyum. Tangannya  merentang. Tongkat yang tadinya  diam
           bersandar tahu-tahu melejit ke dalam genggamannya.

              “Kalian menyebutnya sihir. Bagi kami, ini cuma teknologi.
           Teknologi yang sama akan membuat badanmu kaku macam
           paku tertancap di tembok. Sekarang juga.”


                                                                 307
   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326   327