Page 321 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 321

Keping 67


             Pemandangan itu tak berubah. Alfa melihatnya sejelas
           benda-benda lain di sekitarnya. Kalau sampai mata normalnya

           mampu melihat fenomena seaneh itu, ini berarti bencana.
             Alfa beranjak ke kasur sebelah. Ia butuh konfirmasi dari
           seseorang dengan penglihatan abnormal. Secepatnya.







           Mercedez perak mentereng terparkir di depan rumah ayah
           tirinya. Zarah yakin mobil itu milik tamu yang dimaksud Hara.
           Setelah menyandarkan sepeda, Zarah menghambur masuk.
             Di ruang tamu, seorang pria tengah menunggu sambil
           melihat-lihat foto keluarga yang terpajang di atas meja konsol.
           Bukan Simon Hardiman. Zarah tidak mengenalinya. Pria itu
           masih muda, necis, berpakaian jas lengkap berwarna biru

           indigo. Pilihan busananya sangat ganjil untuk bertamu pada
           pagi buta. Rambut hitamnya tampak kaku akibat gel pengeras,
           membingkai wajah dengan sudut-sudut tegas. Matanya
           memicing tajam. Seketika, Zarah tidak merasa nyaman.
             “Selamat pagi, Zarah. Namaku Togu. Simon mengutusku

           untuk jemput kau.” Suara itu berat, kental dengan logat Batak.
             Umur  Togu lebih  cocok  untuk  menjadi  anak  Simon
           Hardiman. Namun, ia menyebut nama itu sesantai memanggil
           teman sebaya.
             “Kenapa Pak Simon nggak datang langsung? Saya mau
           dijemput ke mana?”



           306
   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326