Page 327 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 327

Keping 68


             Re, yang menyetir sendiri tanpa sopir, turun dari mobil
           dengan kaus oblong abu-abu dan celana jins biru. Tas laptopnya

           terselempang di dada. “Pagi, Dimas. Bolos kerja juga?” sapa
           Re, berasumsi bahwa mereka semua harus mengorbankan
           pekerjaan masing-masing  demi bisa berkumpul pagi ini. Ia
           sendiri merasa tak punya pilihan lain. Setelah membaca cerita
           kiriman Dimas dan Reuben, Re tak bisa lagi fokus ke hal lain.

             “Kebetulan hari ini aku dan Reuben sama-sama libur
           mengajar.” Dimas tersenyum sambil menepuk bahu Re. Ferre
           Pratama terlihat lebih manusiawi di luar setelan baju kerja dan
           kantor penthouse-nya. “Mari masuk,” ajaknya, “Toni sudah di
           dalam. Reuben lagi bikin kopi.”
             Begitu mereka melangkah ke dalam, wangi Arabika
           merebak. Reuben membawa empat mok dan sepoci besar
           french press. “Selamat pagi.”

             Tak lama, Toni muncul, melambaikan tangan dengan poni
           basah. “Halo, Mas Re. Sori, tadi mandi dulu.”
             “Mandi?” Dimas menyambar. “Mana mungkin? Kamu kan,
           tadi masih duduk….”
             “Mandi,  cuci  muka,  sama  saja  buatku,  Mas,”  kata  Toni

           sambil duduk dan mengacak-acak butiran air dari rambutnya,
           “yang penting basah.”
             Re ikut duduk di sebelah Toni. “Ton, aku tahu kamu yang
           punya  inisiatif  untuk kita berempat ketemu pagi ini.  Tapi,
           aku harus bahas satu hal dulu.” Re memutar arah duduknya
           menghadap Dimas dan Reuben. “Novel yang kalian kirim.”



           312
   322   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332