Page 331 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 331

Keping 68


           masih utuh di tempatnya. Gio langsung memindahkannya ke
           tas yang ia pakai sehari-hari.
             “Kok, kusut begitu?”

             “Aku kurang tidur dan lapar. Aku mau sarapan terus tidur
           sebentar.”
             Jia mengikuti lagi langkah Gio ke meja makan.  “Apa
           rencanamu hari ini?”
             “Kembali ke Bogor. Harus menginap lagi.” Gio menyambar
           potongan roti di meja makan, mengunyahnya lahap.
             “Kamu serius, ya, sama dia?”
             Kunyahan Gio berhenti. “Ma, ini bukan pacaran. Bukan
           apa-apa. Aku cuma menolong teman.”

             Jia merengut, antara gusar dan bingung. “Kenapa kemarin
           kamu bilang berkencan?”
             “Aku nggak bilang pergi kencan.”
             “Tapi, kelakuanmu kayak orang mau pergi kencan. Kamu
           nurut saja disuruh bawa bunga,” tukas Jia, “sebentar, dia nggak
           suka sama kamu atau gimana?”
             “Mama,” keluh Gio, “kami cuma berteman.”
             “Kenapa sampai menginap?”
             “Aku sudah bilang, aku cuma bantu dia. Ada sesuatu yang
           perlu kami urus bersama. Itu saja.”
             Jia terdiam, mencerna kata-kata Gio hingga akhirnya tiba
           pada kesimpulan. “Kutukan itu belum hilang,” gumamnya.

             Gio berhenti mengunyah lagi. “Kutukan apa?”
             “Nasib  burukmu,”  kata  Jia  sambil  mengusap wajahnya.
           “Padahal, Mama sudah berharap.”


           316
   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336