Page 329 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 329

Keping 68


           menyerahkan setumpuk lembaran kertas beraneka ukuran

           yang dijepit jadi satu.
             Dimas dan Reuben membaca beberapa halaman kertas
           bertuliskan  tangan Re.  Wajah keduanya diliputi  kengerian.
           Puisi-puisi pendek itu, meski berbeda tanda baca dan beberapa

           kata, menyuratkan kemiripan yang tidak bisa didebat lagi.
             Dimas menatap Re.  “Kalau kamu Kesatria, berarti ada
           Putri….”
             “Namanya Rana,” jawab Re cepat.
             “Dan, Bintang Jatuh?”
             “Diva.”

             “Formisida,” desis Reuben.  “Jadi, Diva bukan cuma
           Supernova….”
             “Dia juga Bintang Jatuh,” potong Toni. “Itu yang pengin
           aku bilang dari kemarin.”

             “Lha,  kamu tahu  Bintang  Jatuh juga?” Dimas nyaris
           berteriak.
             Gugup,  Toni menggosok poninya lagi. Keputusannya
           untuk berbicara akan berimplikasi panjang pada hidup Dimas,
           Reuben, dan Re.  Toni tak yakin siap menjadi pihak yang

           bertanggung jawab atas keterlibatan mereka bertiga sekaligus
           tak tahan lagi menahan dorongan kuat untuk berterus terang.










           314
   324   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334