Page 332 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 332

IntelIgensI embun PagI

              Mendengar itu, Gio mau tak mau tersenyum. Ia menggeser
           kursinya dan mendekat kepada Jia. “Sebegitu berharapnyakah

           Mama?” tanyanya lembut.
              “Sebegitu sialnyakah nasibmu?” Jia bertanya balik, lunglai.
           “Atau, ada hal lain yang perlu Mama tahu?” Jia menangkupkan
           tangannya di pipi Gio. “Você é gay, meu filho?” 22
              Cengiran Gio bertambah lebar. “Dia perempuan.”

              “Kamu suka sama dia?”
              “Aku baru kenal dia tiga hari, Ma. Terlalu cepatlah untuk
           menyimpulkan apa-apa. Lihat nanti saja.”
              “Kenapa orang-orang zaman sekarang senang sekali
           membuat cinta jadi rumit? Suka ya, suka. Tidak usah butuh
           berhari-hari untuk tahu. Mama lihat matamu kemarin malam
           dan belum pernah Mama melihatmu seperti itu. Muka orang
           jatuh cinta. Mama saja tahu, Gio. Bagaimana mungkin kamu

           nggak tahu?”
              Gio tertegun. Ia teringat tangan Zarah yang menyelinap
           keluar dari genggamannya. Seharusnya ia memang lebih tahu.
           Harapan bisa membutakan. Koneksi kuat antara dirinya dan
           Zarah mungkin cuma ilusi besar yang disponsori oleh rasa

           sepi, pelarian, dan entah apa lagi. Ibunya benar. Mengapa cinta
           harus begitu rumit?







           22   Apakah kamu gay, Anakku? (bahasa Portugis).


                                                                 317
   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336   337