Page 379 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 379

Keping 71


             Bodhi terdiam.
             “Dua kali aku nyaris mati dibunuh gara-gara status Peretas.

           Semakin lama aku teruskan ini, semakin dekat aku dengan
           maut. Kamu masih berani mengira alasanku cuma gara-gara
           patah hati?”
             “Ini  bukan  sesuatu  yang  bisa  kamu  batalkan  begitu  saja,
           Alfa….”

             “Itulah bedanya kita. Kamu sudah pasrah menerima tugas
           Peretas sebagai nasib. Bagiku ini masih pilihan.”
             Dalam hatinya, Bodhi ingin meneriakkan ketidaksetujuan,
           tapi ia tak punya cukup tenaga untuk berdebat. Di dalam
           kamar pengapnya, ia dan Alfa bagai dua penumpang kapal
           karam yang terombang-ambing di laut. Putus asa. Mulai siap
           saling memakan.
             “Aku cuma nunggu badanku berhenti kerlap-kerlip. Habis

           itu, aku cabut. Aku masih punya keluarga dan kantor yang
           menungguku balik kerja,” kata Alfa pelan.
             “Aku masih ada Gun dan sepuluh orang lain yang
           menungguku siaran,” sahut Bodhi seraya menyalakan kipas
           angin di atas lemari plastik. “Aku cari makanan dulu.” Tanpa

           menoleh lagi, Bodhi keluar dari kamar.






           Gio duduk di atas ubin kelabu yang dingin, bersandar
           di tembok, mengembuskan kelelahan dan frustrasi lewat



           364
   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384