Page 375 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 375

Keping 71


             “Lumayan tinggi, kok. Masih muda. Pakai baju rapi. Tapi,

           betul, menenteng tongkat.” Hara mengernyitkan dahi. “Aneh.
           Ada rambutnya.”
             “Apanya yang ada rambut?”
             “Tongkatnya. Ada ijuk, gitu.”

             “Zarah belum telepon kamu?”
             “HP-nya ditinggal. Sudah mati dari tadi kayaknya, habis
           baterai.”
             Gio berusaha tersenyum. “Oke. Siapa tahu Zarah telepon,
           kabari saya, ya.” Gio menyerahkan selembar kartu nama biro
           perjalanannya dengan  namanya tercantum di paling bawah.

           “Itu nomor lokal saya.”
             Begitu Gio berbalik, secetus tanda siaga timbul dalam hati
           Hara. “Kak Gio,” panggilnya, “tunggu sebentar.” Hara berlari
           ke dalam, mengambil secarik kertas dan buru-buru menuliskan

           nomor teleponnya. “Kalau ternyata Kak Gio yang dapat kabar
           duluan, hubungi saya.”
             “Pasti.” Gio mengangguk.
             Sepanjang jalan, Gio tak henti merutuk dalam hati.
           Menggeram dan menepak setir mobil ketika luapan

           kegusarannya tak tertahankan lagi. Ia terputus dari segala
           informasi dan tak seorang pun makhluk bertitel Infiltran
           menunjukkan batang hidung.

             Kembali ke rumah Zarah di perbatasan Kampung Batu
           Luhur adalah satu-satunya yang terpikir oleh Gio saat itu.



           360
   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380