Page 44 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 44

IntelIgensI embun PagI

              “Siapa dia?”
              “Dia, mereka. Bisa jadi satu, atau beberapa. You’ll see.”

              “Ini semua seperti mimpi.”
              “Ini semua memang mimpi. That’s the bitter reality.” Leher
           Luca berputar gelisah seperti memindai sesuatu. “Sudah ada
           Sarvara yang menuju kemari. Kita harus pergi. Kamu sudah
           tahu tujuanmu berikutnya?”

              “Indonesia. Aku tidak tahu persis di mananya, tapi aku
           yakin  semua  orang  yang  kucari  ada  di  sana.  Madre  Aya
           menunjukkanku Pulau Jawa. Aku akan mulai dari Jakarta. Ada
           urusan tertunda yang butuh perhatianku sebentar.”
              Luca mengangguk dalam. Ia tampak puas dengan jawaban
           Gio.  “Kamu mengingatkanku kepada seorang Peretas yang
           kutemui bertahun-tahun lalu.  Waktu itu, dia sama butanya
           denganmu. Semoga saat kalian bertemu nanti dia sudah lebih

           melek.”
              “Dia bagian dari gugusku? Yang mana? Petir? Gelombang?”
              “Kamu bisa pilih salah satu dari stok jawaban ambiguku.”
                          8
              “Maldito seas,  Luca. Aku yakin kamu akan kasih jawaban
           yang sama kalau aku bertanya soal Bintang Jatuh,” geram Gio.

              Luca tidak berkomentar. Namun, dalam diamnya, ia tampak
           mempertimbangkan sesuatu.
              “Aku sudah menerima kalau kami memang tidak akan
           pernah bisa bersama. Aku cuma minta satu hal kepada Madre
           Aya: melihat dia terakhir kali. Permintaanku dikabulkan. Aku

           8   Sialan kau (bahasa Spanyol).


                                                                  29
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49