Page 418 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 418

IntelIgensI embun PagI

              Dari kaca spion, Fadil masih menangkap sosok Bong yang
           melangkah santai di pinggir jalan. Manusia satu itu memang

           terkenal setia kawan dan protektif terhadap orang-orang di
           dekatnya. Namun, jika menyangkut urusan Bodhi, Bong bisa
           mewujud menjadi induk yang pencemas, cerewet, bahkan
           irasional. Dan, Bong terlihat sangat menyeramkan untuk
           sosok seorang “Ibu”.







           Menjelang senja, lapangan di daerah Gedung Sate mulai
           disemuti orang-orang, dari mulai pedagang, pemain layang-
           layang, sampai atlet-atlet amatir dengan berbagai macam
           variasi olahraga. Mobil Iksan terpaksa melaju ekstra pelan dan
           hati-hati. Di dekat sebuah plang jalan, Iksan meminggirkan

           mobilnya. “Yakin nggak mau langsung ke E-Pop?” tanyanya.
              Toni  menggeleng.  “Gua  mau  meditasi  dulu,”  jawabnya
           sambil menutup pintu.
              “Paling juga meditasi ngorok.” Iksan pun mendorong
           tangkai persneling ke gigi satu.

              Toni ingin berkata, dalam titik terendah hidupnya,
           betapa bersyukur ia dikelilingi sahabat-sahabat seperti Iksan.
           Ungkapan itu cuma bisa keluar dalam bentuk lambaian tangan.
              Iksan membalas lambaian itu sekilas, lalu melaju.
           Meninggalkan Toni di mulut gang yang cuma muat dilewati
           kendaraan roda dua dan pejalan kaki.



                                                                 403
   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422   423