Page 423 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 423

Keping 75


           kian susut. Cahaya ajaib yang biasanya menerangi rumah itu
           kali ini tidak muncul.

             “Rasa ngambang itu balik lagi,” gumam Alfa.
             Bodhi merasakan sensasi yang serupa. Buru-buru, ia
           memasuki tiap kamar. Tidak ada siapa-siapa.
             Alfa mengeluarkan ponselnya yang kini sudah kembali
           menyala. Mengurut nomor-nomor yang mengirim informasi

           untuk Kell, meneleponinya satu-satu. “Nggak ada yang aktif.
           Sialan.”
             “Kamu berharap ada operator yang bakal jawab kayak kita
           mau pesan ayam goreng?” tanya Bodhi. “Nggak bakalan ada
           yang aktif. Percuma. Cari mereka, ya, harus pakai cara mereka.”
             “Kamu nggak bisa lihat apa, kek—koordinat, pola
           gelombang, jejak energi—apalah itu, yang ada hubungannya
           sama mereka?”

             Bodhi  menggelengkan  kepalanya,  mengedipkan  mata
           seperti orang kemasukan debu. “Banyak yang kulihat. Tapi,
           bukan mereka. Masih belum….”
             Mata     Alfa   membundar.    “Mereka    pasti   sudah
           memperhitungkan ini, Bod,” potongnya. “Kita, balik lagi ke

           sini, mengejar tinta dari Kell. Pasti sudah mereka kalkulasi. Ini
           cuma tes.”
             “Tes buat apa? Buat cari mereka?  Tanpa satu tato lagi,
           penglihatanku belum optimal. Apanya yang mau dites?”
             “Aku,” desis Alfa. “Aku yang harus bisa cari mereka.”
             “Dengan cara apa? Kamu nggak bisa masuk Asko….”



           408
   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428