Page 431 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 431

Keping 75


           pikun.  Ndilalahnya,  manusia jadi  ndak  mudeng sama efek

           perbuatannya sendiri. Makanya karma di sini jelimet banget.
           Kami yang  pura-pura pikun harus berhitung mati-matian
           biar nyambung sama kehidupan di sini.” Kas menghela napas
           panjang. “Kita itu bergerak seperti satu tubuh, Le. Kalau ada

           di antara kita yang keminter, bikin rencana sendiri, semua kena
           getahnya.”
             “Peretas mana yang membelot?”
             “Pernah dengar soal Bintang Jatuh?” Kas balik bertanya.
             Dia lagi, batin Alfa. “Aku pernah tanya ke dr. Kalden soal
           itu, dan dia nggak mau jawab.”

             Kas  membuang  pandangannya  ke  arah  lain.  “Karena
           menjawab bisa berakibat komplikasi baru lagi. Segini saja
           sudah repot. Asal kalian tahu, kami ini jarang bisa deg-degan.
           Si Liong baru bisa pucat pasi kayak kapas, ya, baru sekarang.

           Sementara kalian yang pikun adem ayem kayak ndak ada apa-
           apa.”
             “Pak, kami seharian pontang-panting Bogor–Jakarta–
           Bogor. Gimana mungkin kami bisa adem ayem kalau badan
           kelap-kelip begini?”

             “Kamu pikir bahaya terbesarmu adalah perubahan fisik?
           Yang terjadi di badanmu itu cuma gejala. Bukan itu bencana
           sebenarnya. Infiltran bisa bertahan dalam wadah ini karena
           ada batu-batu itu. Terbagi rata di enam puluh empat titik di

           seluruh dunia. Satu pun ndak boleh berkurang.”



           416
   426   427   428   429   430   431   432   433   434   435   436