Page 49 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 49

Keping 47


             Bodhi mengangkat dua jarinya.  “Janji. Saya sudah biasa
           sama yang aneh-aneh.”

             Elektra menahan napas sejenak.  “Saya bisa baca pikiran
           orang.”
             “Oh.”
             “Ya, gitu.”
             “Terus?”

             “Ya, sudah.”
             “Kalau itu saya juga bisa. Kadang-kadang.”
             “Oh,  ya?” Elektra melongo.  “Eh,  sebentar.  Maksud saya
           begini. ‘Pikiran’ mungkin bukan istilah yang paling tepat. Saya
           bisa mengakses memori lewat sentuhan. Apa yang saya lihat
           tadi kemungkinan besar cuma memori kamu.”
             “Artinya?”
             “Artinya, kita mungkin nggak mengalaminya bareng. Bisa

           jadi saya cuma lihat memori kamu. Lewat kamu. Makanya
           bisa persis sama.”
             “Asko, Akar, Petir, Bintang Jatuh, dan semua yang tadi itu,
           adalah memori? Masa lalu?”
             “Mungkin.”

             “Kalau bukan?”
             “Ya, bisa saja, sih. Tapi, rasanya kok, terlalu… apa, ya?”
             “Aneh?”
             Ragu, Elektra mengangguk.
             Bodhi meraih tasnya yang tergeletak di pojok ruangan,
           mengeluarkan sebuah agenda bersampul kulit cokelat yang



           34
   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54