Page 467 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 467

Keping 78


           dan saya lihat surga, Mpret.” Elektra berhenti berbicara dan
           melengos. “Ah. Kamu mah pasti nggak percaya yang begini-

           beginian.”
             “Memang nggak.”
             Elektra terdiam. Menabung cerita itu untuk Toni adalah
           keputusan yang  bodoh. Kewoy dan Mi’un pasti akan
           menyambut curahan hatinya dengan positif. Terbalik dengan

           orang yang paling ia harapkan, yang justru mematahkan
           semangatnya seperti ranting kering tak berharga. Toni menjadi
           titik nila yang menghancurkan kesempurnaan sebelanga susu.
           “Suportif dikit, kek,” gumam Elektra.
             “Buat apa? Lu kan tahu, gua nggak pernah suka sama Bu
           Sati. Paling itu bisa-bisaannya dia doang.”
             Elektra tidak pernah suka kalau  Toni mulai  “gua-lu”
           dengannya.  Tapi, ini lebih dari masalah kata ganti. Belum

           pernah ia mendengar Toni begitu frontal dan kurang ajar. Toni
           tahu betul arti Sati baginya. “Kamu kenapa, sih? Kurang tidur?
           Mabuk? Sakit jiwa?”
             “Nomor satu, benar. Nomor dua dan tiga, nggak.”  Toni
           menyeruput minuman cokelatnya.  “Justru gua orang paling

           waras di rumah ini karena cuma gua doang yang bisa lihat
           dan  berani  ngomong  kalau  lu  orang  paling  buta.  Lu  bisa
           bantuin orang sedunia, tapi lu bertahan di sini kayak katak
           dalam tempurung. Dan, itu semua gara-gara siapa? Bu Sati!”
           tukas Toni. “Lu dibonsai sama dia dan lu nggak sadar. Malah
           lu puja-puja dia setinggi langit.”



           452
   462   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472