Page 54 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 54
IntelIgensI embun PagI
“Jam berapa?”
“Mungkin sekarang sudah jalan.”
Elektra memaki dirinya sendiri dalam hati. Kalau sudah
kepepet seperti itu barulah ia jadi tahu apa yang ia mau. Ia
harus menemui Bodhi. Sekali lagi. “Mpret. Boleh tolong
hubungi Bong, nggak? Sekarang juga.”
Di Jalan Pasteur, jip Wrangler milik si kembar Nabil dan Fadil
meluncur. Satu lampu merah lagi menuju gerbang tol. Ponsel
di kantong jaket Bong berbunyi dan bergetar sekaligus.
“Buset! Berisik banget sih, Bong! Gue tahu lo suka
Manowar, tapi nggak usah dibikin jadi ring tone, dong!” Nabil
yang ada di belakang kemudi langsung protes, diikuti gerutu
Fadil dan Bodhi.
“Gue kan rada budek,” sahut Bong. “Bentar, si Mpret, nih.
Yo, Mpret. Kenapa?”
Bong mendengarkan penjelasan Toni di ujung sana,
beberapa saat kemudian membalas dengan sepotong “oke”.
Sambungan telepon itu lalu usai.
“Bil, lampu merah depan kita putar balik, ya.”
“Ngapain?”
“Si Batman nggak jadi balik. Kita harus ke E-Pop lagi.”
“Ada apa?” Bodhi langsung menyambar.
“Ada yang ketinggalan?” celetuk Fadil.
39

