Page 519 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 519

Keping 83


             “Selamat datang kembali, Petir.” Liong mengangguk kecil.
             “Buat saya?” Hati-hati, Elektra memungut keping batu itu

           dari tangan Liong.
             “Bukan. Buat Kewoy.”
             “Ke—Kewoy juga? Tapi, dia masih di Bandung….”
             Liong melengos, gusar. “Masuk.”
             Terbirit-birit, Elektra masuk. Liong sungguh tidak bisa

           ditebak.  Dalam  hati,  Elektra  berniat  untuk  sebisa  mungkin
           menghindarinya.
             “Yong,” panggil Kas, “aku susul Zarah dulu. Dia di dekat
           sungai.”
             Liong menggeleng. “Bukan kita, Kas.”
             “Aku saja.” Gio, satu-satunya Peretas yang masih tersisa di
           teras, tegak berdiri di anak tangga. Tanpa menunggu tanggapan
           keduanya, Gio beranjak menuruni bukit.

             “Memang harus dia,” gumam Liong. Sesaat sebelum
           menutup pintu, pandangan Liong singgah sedikit lebih lama
           ke ufuk timur. Sejauh ini, perhitungannya belum keliru. Liong
           paham, konsekuensi yang ditarik oleh ruang dan waktu tidak
           akan datang dengan segera. Pada saatnya nanti, ia hanya

           tinggal menerima saat konsekuensi datang menjemput.






           Bisikan ilalang yang tertiup angin membaur bersama gemercik
           riak sungai. Gio sempat menduga ia akan mendengar isak tangis



           504
   514   515   516   517   518   519   520   521   522   523   524