Page 520 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 520

IntelIgensI embun PagI

           di antara suara-suara itu. Ia membayangkan akan menemukan
           Zarah dalam keadaan luluh lantak. Yang ditemukannya jauh

           dari itu.
              Cahaya bulan memperlihatkan siluet Zarah duduk tegak di
           atas sebuah batu di pinggir sungai, memandang lereng berlapis
           kabut. Diam dan tegar bagai batu yang menopangnya.
              Gio mengambil tempat di sebelahnya. Zarah tak bereaksi.

              “Chawpi Tuta,” kata Gio. “Nama panggilanku dari Chaska,
           ibunya Paulo.”
              Ada jeda sebelum Zarah akhirnya bersuara, “Apa artinya?”
              “Kabut Tengah Malam,” jawab Gio. “Aku dipanggil begitu
           karena kebiasaanku duduk berjam-jam di pinggir sungai,
           memandangi kabut. Menurut Chaska, aku kebanyakan
           melamun, berharap kepada udara kosong.”
              Zarah tersenyum pahit.  “Sebegitu-salahnyakah punya

           harapan?”
              “Chaska pernah bilang, jangan sampai harapan membuat
           kita buta pada kenyataan,” lanjut Gio, ia lalu mengerling ke
           arah Zarah, berkata sehati-hati mungkin,  “Aku bisa antar
           kamu kembali ke Bukit Jambul. Kamu bisa lihat langsung.”

              “Aku nggak mau,” jawab Zarah datar.
              “Itu satu-satunya cara untuk membuktikan apa yang
           kulihat.”
              “Aku nggak perlu pembuktian dari kamu.”
              “Kenapa? Apa gunanya menghindar? Ini kebenaran yang
           kamu cari dua belas tahun….”



                                                                 505
   515   516   517   518   519   520   521   522   523   524   525