Page 521 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 521
Keping 83
“Aku percaya apa yang kulihat.”
“Kamu cuma lihat apa yang kamu mau.”
Zarah terdiam. Hanya terdengar tarikan dan embusan
napasnya yang mengencang. Perlahan, napas itu melandai.
“Aku belum siap, Gio,” ucapnya lirih. “Jangan kira aku belum
pernah memikirkan kematian Ayah. Aku memikirkan itu
berulang-ulang. Selama ini aku yakin sudah siap dengan
segala kemungkinan terburuk. Ternyata aku nggak siap.” Posisi
duduknya melunglai. “Aku lebih kepingin lihat dia hidup,
biarpun itu bukan dia, ketimbang lihat jenazah.”
Seakan hendak menyentuh boneka porselen yang rentan,
Gio menjemput tangan Zarah yang mengepal. “Itu manusiawi
namanya,” katanya lembut.
“Kita sudah nggak bisa lagi manusiawi!” Zarah menyergah
keras sambil menarik tangannya. “Rumah itu, Infiltran,
Sarvara, kejadian di Bukit Jambul, apa yang manusiawi dari
itu semua?”
“Perasaan ini.”
Dada Zarah menyesak. Air mata yang sejak tadi berhasil
ia tekan kini mengambang di pelupuk. “Gio, ini waktu yang
sama sekali salah….”
Gio tak bisa dihentikan. Ia terus berbicara. “Madre Aya
menunjukkanku banyak hal yang belum kuceritakan, terutama
yang berhubungan dengan kamu. Aku sudah tahu soal Peretas
Puncak yang memang bukan Peretas biasa. Dialah Peretas
dengan unsur paling murni, lahir melalui dua Peretas yang
506

