Page 535 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 535

Keping 84


           sempat mencurigai reaksi keras Alfa terhadap  gondang juga

           akibat dengungan Dolok Simaung-Maung.
             Alfa tak pernah percaya. Baginya, Dolok Simaung-Maung
           hanya salah satu kasus klasik terciptanya mitos di dunia. Untuk
           setiap fenomena di luar nalar, selalu ada kambing hitam hasil

           konsensus orang-orang yang gagal merumuskan penjelasan
           masuk akal.
             Para petani punya pendapat lain lagi. Pendapat yang hanya
           digunjingkan dalam canda sambil memacul ladang. Menurut
           para petani, bukit itu sesungguhnya melolong karena terbuang.
           Tano na tarulang,  demikian petani menyebutnya.  Tanah

           mandul yang tak bisa berkembang. Dolok Simaung-Maung
           terlihat sedikit hijau di kala musim penghujan dan kembali
           cokelat menggersang di musim lain. Komposisi tanahnya yang
           didominasi bebatuan tidak memungkinkan untuk dipakai

           bercocok tanam.
             Di tengah hubungan intens warga kampung dengan
           Pusuk Buhit, Dolok Simaung-Maung mengambil tempat
           seperti penonton pasif yang sekadar ada dan tidak pernah
           diajak bicara. Alasan penyeimbang spiritual yang diungkap

           tetua, menurut Alfa, lagi-lagi adalah upaya jalan pintas untuk
           menjelaskan apa yang sesungguhnya tidak mereka pahami.
           Yang penting setiap tempat punya signifikansi spiritual, setiap
           eksistensi benda punya alasan kosmik. Bukit nganggur macam

           Dolok Simaung-Maung pun harus sesekali diberi panggung.



           520
   530   531   532   533   534   535   536   537   538   539   540