Page 530 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 530

IntelIgensI embun PagI

              “Diva,” bisik Gio.
              “Kamu hanya bisa masuk ke bangunanmu setelah
           membenturkan diri ke jaring Penjaga. Di atas sana,” kata Diva

           sambil mendongak.
              Mata Gio tergiring, melihat angkasa putih yang ternyata
           tidak bersih polos sebagaimana yang dilihatnya saat masih di
           bawah. Mereka berdua terus meluncur ke atas bersama-sama.
           Semakin didekati, semakin terlihatlah hamparan pola kisi.
           Jalur-jalur putih merajut langit itu bagai tenunan benang.
              “La Estrella Fugaz. Bintang Jatuh. Aku mencarimu,” bisik
           Gio.
              “Aku tahu.” Suara Diva bergaung di benaknya.

              Gio menahan tangannya. Sentuhan mereka seperti
           pertemuan uap air. Sejenak keduanya tertahan di udara. Hanya
           bertukar tatap tanpa bicara.  Transparansi dimensi kandi
           menembus batasan bahasa.
              “Kesatria. Selalu dia. Kami bukan Peretas komplementer,
           tapi kami selalu menjadi yang terdekat.” Diva tersenyum
           lembut. “Partikel. Selalu dia. Kita cuma lebih awal bertemu.
           Jangan berhenti.” Diva kembali meluncur ke atas. Gio terpaksa
           mengikuti. Sedikit lagi mencapai ujung kisi.
              Proses luncurnya tersendat. Gio terbentur oleh pikirannya
           sendiri. “Bintang Jatuh. Ini bukan kandimu. Kamu… kamu
           tidak seharusnya ada di sini.”

              Diva bersejajar dengan Gio, memandangnya dengan
           tatapan memohon. “Tidak lama lagi. Aku harus bertahan di
           sini, sebentar lagi saja.”


                                                                 515
   525   526   527   528   529   530   531   532   533   534   535