Page 555 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 555

Keping 85


             Alfa memijat pelipisnya. Kali ini, ia yakin betul rasa
           pusingnya bukan karena arus informasi yang teraktivasi.
           “Aku… aku ada penugasan, Mak. Harus ke Sianjur Mula-

           Mula.”
             “Urusan apa kantormu di Sianjur Mula-Mula? Mau tanam
           saham kau di kebun ubi? Kau pikir bodoh Mamak-mu ini?”
             “Ini… ini dari kantorku yang lain, Mak.”
             “Kerja apa lagi kau?”
             “Eh… kantor arkeologi ini, Mak. Ada artefak yang harus
           kami selidiki di Danau Toba. Aku satu-satunya orang Batak di
           situ, Mak. Jadi, akulah yang harus antar rombongan kantor ke
           sana.” Alfa berbicara sambil memejamkan mata rapat-rapat,

           meratapi nasibnya.
             “Masa kau tak kunjungi kami dulu? Mampirlah! Abang-
           abangmu jemput kau ke bandara, ya. Bawa rombonganmu ke
           rumah. Kusiapkan makan nanti.”
             “Aku sudah harus boarding sebentar lagi, Mak.”
             “Macam  apa  kau  ini?  Tak  rindu  kau  sama  keluargamu?
                                                             30
           Dang parjolo nian berengen on mu au? So diboto ho adat! ”
             Kalau sampai Sondang memarahinya dalam bahasa Batak,
           artinya ia murka berat. “Rindu, Mak. Tapi… aku… pulang dari
           sana, aku pasti mampir,” kata Alfa terbata. Sebuah ide melintas
           sekelebat, dan Alfa menyergapnya tanpa pikir panjang. “Aku
           bawa calon, Mak.”

             “Si Miranda?” Ketegangan dalam suara ibunya langsung
           menurun drastis.
           30   Kenapa tak kau temui aku duluan? Tidak tahu adat! (bahasa Batak).


           540
   550   551   552   553   554   555   556   557   558   559   560