Page 610 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 610
IntelIgensI embun PagI
Terdengar bunyi kain sobek berbarengan dengan pekik
spontan Zarah yang turun sekitar tiga senti dalam sekejap.
Jantungnya seperti ditusuk. “Sangkutan ini nggak bakal
bertahan, Gio!” seru Zarah.
Dari jalur vertikal, Gio langsung mengubah manuvernya
ke arah horizontal. Zarah benar. Tidak mungkin lagi baginya
untuk ke atas. Tidak mungkin lagi baginya untuk mengeluarkan
peralatan. Mereka berpacu dengan waktu.
Dengan dada sesak, Zarah berusaha untuk tetap menjaga
pandangannya tetap lurus. Pemandangan indah di hadapannya
barangkali adalah pemandangan terakhir yang akan ia lihat.
Ia teringat Hara. Aisyah. Ia tidak pernah sempat membalas
semua yang telah mereka korbankan. Sebutir air mata
mulai menggenang di pelupuk matanya. “Sing… sing for me.
Anything,” bisik Zarah. Gio tidak mendengar.
Bodhi tergeletak tak jauh dari mereka. Terdengar napasnya
yang mengorok.
“Saya sudah coba bangunin, Tra. Nggak berhasil. Kamu
lebih ngerti soal beginian, kan?” tanya Toni.
Elektra buru-buru mendekat. “Berapa lama dia kayak gini?”
“Nggak tahu.”
Dengan susah payah Elektra bangkit duduk dan berusaha
mendapatkan posisi stabil di tanah yang miring, jarinya
595

