Page 612 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 612

IntelIgensI embun PagI

              Zarah tidak bisa melihat apa yang terjadi, tapi ia tahu Gio
           mengerang kesakitan. “Gio, lupakan,” Zarah memohon. “Don’t
           go solo. You’ll never make it.”

              “I’ve passed the mono,” ujar Gio. Ia terus merayap pelan.
           Beberapa pegangan yang terlihat kini tampak lebih
           menjanjikan dan Zarah semakin dekat.  Tangan kirinya
           berpegangan mantap ke sebuah lubang, kaki kirinya menyusul
           ke sebuah tonjolan. Begitu berat badannya berpindah, pijakan
           di kakinya remuk dan menggelincir hilang.
              “Gio!” Zarah memekik ketika melihat pecahan-pecahan
           batu berguling diiringi suara teriakan tertahan.
              “Got it.” Gio  menggeram.  Keringat  dingin membanjiri

           tubuhnya. Ujung sepatunya berhasil bertahan di dinding
           tebing, di sebuah celah sempit yang membuat seluruh otot
           kakinya meregang dan menggeligis. Sudah beberapa kali Gio
           nyaris bersentuhan dengan maut akibat pekerjaannya, dan
           barusan adalah salah satu sentuhan yang paling intim.
              Zarah berusaha mengatur napasnya, berusaha menekan
           rasa takut yang membuat tubuhnya tak henti gemetar. Ia tahu
           setiap pergerakan kecil bisa berakibat fatal, ia juga sadar betapa
           tipis probabilitasnya untuk lolos dari sana. “Kamu ingat kata
           Alfa? Daerah ini sering longsor. Dinding ini nggak stabil,”
           ujarnya setenang mungkin, berharap kali ini Gio berubah
           pikiran.

              “Ada satu pinch yang cukup besar. Kalau aku bisa sampai
           ke sana, kamu bisa mengayun ke arah kiri. Aku bisa tangkap
           kamu.”


                                                                 597
   607   608   609   610   611   612   613   614   615   616   617